← Kembali ke Blog
Reflection · 10 menit baca

Tour De Funky

Rickhy Siswanto·12 September 2026

Tour De Funky

Demam Bersepeda

Belakangan ini saya sedang gemar-gemarnya mengulik mengenai sepeda saya tidak tau hal ini seperti racun yang terus menerus merasuki pikiran saya. Entah kenapa jika sesuatu yang menarik attensi saya, saya selalu ingin mengulik hal tersebut lebih dalam, ingin membongkar dan membedah habis hal tersebut. Mendalami part-part sepeda, material sepeda, teknologi sepeda, jenis-jenis sepeda, sejarah sepeda, dan lain sebagainya. Sepeda ini seperti candu yang membius pikiran saya yang membuat saya rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca artikel, menonton video, dan mencari tau seluk beluknya. Banyak brand-brand sepeda roadbike legenda di dunia yang punya sejarah panjang dan filosofi yang unik. Sejarah randonneuring (atau bersepeda jarak jauh non-kompetitif) berakar dari Eropa pada akhir abad ke-19, tepatnya di Prancis dan Italia. Istilah "randonnée" sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti perjalanan jauh atau penjelajahan.

Pada tahun 1891, surat kabar Prancis Le Petit Journal menyelenggarakan ajang sepeda Paris–Brest–Paris (PBP) pertama sejauh 1.200 kilometer. Lintasan ini melewati jalanan tanah yang belum diaspal. Pada awalnya, ajang ini merupakan balapan profesional untuk menguji ketahanan fisik manusia dan keandalan sepeda baru dengan ban pneumati. Sementara itu di Italia pada tahun 1897, sekelompok pesepeda menantang diri mereka untuk berkendara sejauh 200 km antara matahari terbit hingga terbenam. Mereka yang berhasil disebut sebagai "Les Audacieux" (berani/nekat), yang menjadi cikal bakal istilah Audax.

Setelah Perang Dunia II berakhir (Tour de France dihentikan pada 1940-1946 karena perang), ukuran geometri rangka mengalami perubahan besar. Permukaan jalan yang semakin baik juga mengubah desain rangka menjadi lebih agresif. Menurut peraturan UCI sendiri, rangka sepeda balap jalan raya harus dibuat dengan struktur "segitiga utama" yang terdiri dari tiga elemen berbentuk tabung lurus—yaitu top tube (pipa atas), down tube (pipa bawah), dan seat tube (pipa dudukan). Namun, ketiga pipa tersebut—serta bagian rangka lainnya—tidak harus berbentuk silindris, dan banyak sepeda balap menggunakan rangka dengan bentuk alternatif. Contohnya adalah rangka dengan bentuk aerodynamic tube (tabung aero), yang memiliki profil pipih atau lonjong untuk mengurangi hambatan udara, atau rangka bi-oval, di mana penampang tabung berbentuk oval pada satu atau kedua ujungnya untuk menambah kekakuan lateral.

Roadbike Klasik

Mulai membangun roadbike jadul awalnya saya ingin membeli frame saja lalu saya cicil part-partnya yang saya inginkan, tapi akhirnya dapat satu sepeda jadul yang sudah jadi dengan stang flatbar dan groupeset shimano tourney 7 speed. Akhirnya saya mulai coba rubah saja stang nya ke dropbar dan mengembalikan posisi shifter ke di stang bagian bawah, karena menurut saya stang tersebut kurang pas dengan geometri rangka nya. Namun banyak part-part yang sudah ada saya pertahankan. Saya membeli sepeda ini dengan kondisi apa adanya, dengan cat yang sudah kusam dan beberapa bagian yang sudah lecet. Saya memutuskan untuk merestorasi sepeda ini agar terlihat seperti baru lagi, tetapi dengan sentuhan pribadi.Kedepanya memang ada beberapa part yang ingin saya upgrade seperti rear derailleur, front derailleur dan crankset karena sudah cukup termakan usia dan juga saya tertarik untuk mengulik groupeset shimano sora yang jujur saja sangat sulit mendapatkan beberapa part untuk roadbike klasik ini.

Restorasi Frame yang saya dapatkan

Keseharian Saat Ini

Saya sudah mulai meninggalkan kendaraan yang menggunakan BBM saya tidak tau apakah ini gejala alergi asap kendaraan(HAHAHA) atau memang sudah ketergantungan dengan sepeda, bahkan saat ini ke kantor pun masih menggunakan motor listrik. Dengan adanya sepeda ini, saya mulai aktif bersepeda mengelilingi Kota Surabaya setiap akhir pekan. Rute ini biasanya memiliki jarak sekitar 25–35 kilometer, dengan waktu tempuh berkisar antara 2 hingga 3 jam, tergantung pada kecepatan dan kondisi fisik saya pada hari itu. Aktivitas ini tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga cara saya menjaga kebugaran dan mengeksplorasi kota. Dimana akhir-akhir ini juga saya cukup banyak menggunakan tubuh untuk beraktifitas fisik bahkan di kantor pun setiap sore saya menyempatkan untuk melakukan aktifitas fisik juga dengan bermain biliard dengan naik ke lantai 5 untuk bermain 3 sampai 4 game karna memang pekerjaan saya yang mengharuskan saya duduk berjam-jam.

Restorasi Frame yang saya dapatkan

Tidak hanya satu sepeda saya ingin terus menambah sepeda baru terutama gravel bike untuk menjelajahi jalur offroad. Karna memang saya ada sebuah rencana ingin menjelajahi beberapa tempat di daerah dengan sepeda gravel. Tetapi saat ini saya juga masih bingung untuk mencari sebuah sepeda gravel yang cukup bagus dan sustainable untuk saya pakai. Tidak berhentinya saya belajar mengenai sepeda ini dan semoga nanti kedepan saya bisa merealisasikan keinginan saya untuk memiliki sepeda gravel dan menjelajahi beberapa tempat dengan sepeda gravel. Dan semoga kita bisa bertemu di jalan dan bisa gowes bareng ya sob!!