Mereka Yang Membenci Rokok
Akhir-akhir ini saya semakin banyak sekali melihat kebencian tidak bukan cuma ucapan bahkan perlakuan secara fisik yang seharusnya bisa di diskusikan malah menjadi ancaman. Saya sendiri pun tak lekat dari dendam dan kebencian terhadap beberapa orang tapi selama ini pun saya selalu mencoba menahan dendam dan pula amarah walaupun tidaklah mudah. Seperti halnya saya menulis mengenai orang yang membenci rokok mereka pun tak melihat diri mereka lebih dalam dan mereka selalu melakukan penghakiman. Banyak sekali orang-orang mencap kejelakan para perokok bahkan membuat campaign bahwa merokok bukan hanya merusak tubuh perokok itu sendiri tapi juga mengganggu lingkungan sekitar.
Diantara mereka terutama kalangan para dokter sangatlah vokal terhadap isu terkait rokok sendiri dengan menunjukan bukti-bukti biologi. Yang ingin saya sampaikan adalah mereka lupa juga melihat bukti yang ada juga pada saat ini. Mereka berteriak seakan rokok adalah ancaman di seminar-seminar tapi mereka datang ke seminar itu menggunakan mobil yang rata-rata cukup mewah untuk mencemari lingkungan juga dengan asap. Di surabaya sendiri, Data dari Dinas Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa 15% polusi udara di kota ini berasal dari asap rokok, sementara 40% disumbang emisi kendaraan pada tahun 2025 (referensi dibawah).
Itupun hanya faktor dari kendaraan belum limbah atau aktivitas industri lainnya. Silahkan kalian cari lebih banyak referensi yang ada data-data yang ada saat ini banyak menampilkan data seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, coba saja cek data BMKG terkait polusi udara di tahun 2025. Tapi bukan itu poin yang ingin saya katakan saya sendiri pun setuju jika rokok itu buruk dan saya tidak akan menyerukan untuk mengajak orang-orang untuk merokok atau pun memboikot perusahan rokok.
Yang ingin selalu saya tekankan adalah menghargai setiap tindakan yang sudah diambil oleh orang tersebut. Tidak hentinya saya juga akan selalu menyuarakan untuk menghargai keyakinan setiap orang juga. Apalagi jika kita melihat sosial kita akhir-akhir ini kebencian antar umat beragama semakin tinggi seperti halnya jika keyakinanku tidak sesuai dengan keyakinanmu maka kamu adalah musuh bagiku. Bahkan banyak sekali orang yang tidak pernah membaca atau belajar sudah meyakini kebenaranya dari orang lain/tokoh agama tersebut tanpa pernah mencari sumber-sumber yang mungkin belum terbaca oleh tokoh tersebut.
Karna kebetulan saya sendiri seorang muslim disini saya akan mencoba mengambil contoh yang cukup berbahaya sebagai contoh mengenai orientasi seksual di dalam islam sendiri, jika kita lihat literatur awal mengenai islam banyak perbedaan pendapat mengenai hal tersebut, ada banyak pula sejarah mengenai hal tersebut bahkan banyak ulama-ulama fundamental seperti ibnu hazm dalam bukunya Thauq al-Hamamah yang menceritakan mengenai cinta sejenis yang mati sebagai syahid. Khalifah al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik sendiri diriwayatkan oleh imam suyuti itu pernah minum khamr (minuman yang memabukkan) dan melakukan liwath (hubungan sesama jenis atau gay). Walaupun saya sendiri pun sebenarnya bukan seorang yang punya kecenderungan orientasi seksual seprti Khalifah al-Walid karna saya sudah banyak bergonta-ganti pacar dan kadang masih tidak dapat menahan diri jika bertemu seorang perempuan :). Tapi saya akan selalu menghargai orientasi seksual seseorang karna pentingnya membedakan antara orientasi seksual (hal yang bersifat bawaan/kodrati seperti heteroseksual, homoseksual, biseksual) dan perilaku seksual (hal yang bisa diubah atau dikontrol, seperti tindakan homoseksual atau heteroseksual).
Dalam Surat Al-Isra Ayat 70 sendiri disitu jelas sekali "Kami muliakan anak-anak Adam" disitu jelas sekali bahwa setiap manusia layak untuk dihormati tapi dalam prakteknya itu kemudian diabakan yang banyak menyalahi prinsip-prinsip al quran. Penyikapan terhadap hal-hal yang berbeda saat ini itu karna modernitas yang mana itu tidak terjadi di masa lalu. Saya juga tidak mengajak orang untuk meninggalkan tradisi tetapi dengan cara itu mengkin kita bisa beragama secara lebih rileks atau santai
Kembali ke topik mengenai rokok, di masa lalu pun juga sangat banyak tokoh-tokoh yang merokok seperti Einstein, Tesla, Betrand Russel, dan bakan Gus Dur pun juga merokok. Bahkan orang-orang seperti carl sagan dan richard feynman adalah seorang penghisap ganja. Kita bisa bayangkan bagaimana mereka berpikir secara keras untuk ide-ide mereka di masa itu dan itu mungkin yang menurut saya ketika mereka mendapat kebuntuan dari ide-ide tersebut mereka menghisap rokok untuk memproduksi imajinasi. Dan sebagai hasil dari ide-ide mereka bisa kita nikmati di hari ini bayangkan jika Nikola Tesla tidak menciptakan koneksi nirkabel mungkin kita hanya akan membawa kabel saat beraktivitas. Bahkan kalau kita melihat para perempuan jaman dulu di indonesia pun banyak merokok dan juga ada yang melakukan itu sebagai ritual adat.
Jadi kita harus melihat tradisi di masa lalu itu sebagai perspektif yang harus diselaraskan dengan cara berpikir yang kritis pada masa sekarang karna kalau tidak begitu kita akan mudah menjadi fanatik. Apapun yang kita lakukan saat ini juga sebenernya dibentuk oleh tradisi di masa lalu. Jadi perbedaan pendapat mengenai hal-hal seperti merokok ini terjadi karna perbedaan perspektif jadi semoga perbedaan ini akan selalu bisa kita diskusikan dan bisa membuat manusia menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Daftar Bacaan yang saya baca
- https://unair.ac.id/post_fetcher/sekolah-pascasarjana-dari-hari-anti-tembakau-sedunia-menuju-kota-berkelas-dunia-refleksi-untuk-surabaya/