Bintang, Rembulan dan Manusia
Aku tak tahu mengapa aku merasa agak melankolis malam ini. Aku melihat banyak lampu-lampu megah dan arus jalanan di Surabaya dengan warna-warna yang baru, seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu rangkaian kemanusiaan yang baru. Kulihat semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas dari realita. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba bayang-bayang ini terasa puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan kasih dan sayang yang amat kuat menguasai diriku. Aku tak tahu aku hanya ingin memberikan suatu rasa cinta pada manusia.
Akhir-akhir ini aku merasa butuh teman bicara. Menulis pun rasanya membosankan luar biasa, atau mungkin aku sedang lelah dan tidak punya inspirasi. Waktu cepat berlalu banyak teman-teman makin banyak yang meninggalkan diriku. Aku benar-benar merindukan masa di mana kalian semua tertawa, bertengkar, atau sekadar ngobrol.
Dunia hari-hari ini telah banyak berubah. Banyak orang-orang yang tidak punya dedikasi dalam pekerjaannya dan membuat masyarakat tidak kalah malasnya. Ini hanya salah satu contoh dari banyak kebobrokan di masyarakat ini yang selalu aku persoalkan. Banyak yang mengeluh aku keras kepala dan selalu mencari masalah. Biarlah, lebih baik aku diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.
Kuingat. kabut tipis pun turun pelan-pelan di puncak Gunung Rinjani. Dimana aku mencoba tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram, Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu ketika kudekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat. Apakah kau masih akan berkata: 'Kudengar denyut jantungmu. Apakah kau masih selembut dahulu, meminta aku minum susu dan tidur yang lelap, Sambil membenarkan letak leher kemejaku?' Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.
Hari pun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. Wajah-wajah yang tak kukenal berbicara dalam bahasa yang tidak mudah dimengerti. Seperti kabut pagi itu. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk pergi beribadah ke Mekah, Banyak orang menghabiskan waktunya untuk mengoleksi barang-barang mewah, Banyak orang menghabiskan waktunya untuk menghakimi pikiran orang lain, Banyak bayi-bayi yang mati dan kelaparan karena kebijakan-kebijakan lucu. Tapi aku hanya ingin habiskan waktuku di sisimu saja, manisku.
Bicara tentang peliharaan-peliharaan kita yang nakal dan lucu, Atau tentang bunga-bunga yang manis di gunung. Setelah kita bosan tentang hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu makhluk pun tahu. Mari sini manisku, kalian semua yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku. Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa. Makhluk rapuh seperti kita, kembali dari tiada ke tiada,Berbahagialah dalam ketiadaan.